25 Mei 2015

IKA dan Rektor ITS dukung CATFIZ


Suatu hari saya menerima sms di handphone saya, yang meminta waktu untuk berbicara, sambil memperkenalkan diri sebagai Ketua Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Pengirim SMS itu kemudian saya kenal sebagai Bapak DR. Ir. Irnanda Laksanawan, yang benar adalah Ketua IKA ITS periode ini. Setelah SMS ini saya balas berlanjut dengan pembicaraan melalui telepon yang intinya mengajak untuk berdiskusi lebih lanjut terkait pengembangan CATFIZ.

Singkat cerita, disepakati untuk bertemu pada acara Ceramah Kebangsaan dengan narasumber adalah KH. Hasyim Muzadi yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PB Nadhlatul Ulama (NU). Sayapun mengundang serta rekan sejawat dari CATFIZ yaitu Mohammad Arfan untuk ikut bergabung di acara ini.

Seusai acara kami diajak oleh Ketua IKA ITS untuk langsung beraudiensi dengan Rektor ITS yaitu Bapak Prof. DR. Ir. Joni Hermana yang kebetulan belum lama dilantik. Dalam perbincangan itu dibahas beberapa hal terkait dengan CATFIZ yang juga merupakan produk karya alumni ITS. Rektor ITS sangat tertarik untuk mengembangkannya di kalangan internal ITS

22 Mei 2015

Kuliah Itu Menyenangkan



Suatu hari, hadir di hadapan saya, dua orang mahasiswa bernama Aris, seorang mahasiswa dari sebuah PTN di Jawa Timur dan rekannya bernama Darian seorang mahasiswa PTS ternama di Jawa Timur.
Keduanya telah lama saya kenal dan berinteraksi sejak lama. Kali ini topik pembicaraan kami adalah tentang model perkuliahan yang membosankan dan terasa aneh di mata mereka.
Sekedar informasi keduanya kebetulan juga sedang bekerja di salah satu perusahaan bergengsi di Surabaya, sehingga merasakan adanya gap antara dunia kerja, dunia realita dengan apa yang diajarkan oleh dosen mereka.
Aris misalnya, merasakan hal itu bahkan saat melakukan proses menuju skripsinya, banyak hambatan yang dialaminya berujung pada ketidak sepakatan pemahaman antara Aris dengan Sang Dosen Pembimbing.
Sampai terucap, kalau begini terus kapan saya bisa menikah?
Sang Dosen Pembimbing kebetulan seorang dosen yang cukup rajin di kampus melakukan aktifitas keilmuan namun tak sempat mengupdate diri dengan berita dan inovasi terbaru di bidang teknologi informasi
Darian pun merasakan kegelisahan yang sama, kebetulan dia juga sangat aktif dalam komunitas IT di lingkungannya.
Keluhan ini hanya sebagian saja yang berhasil saya potret dari kesenjangan dunia pendidikan dan dunia bisnis/kerja khususnya dalam bidang ilmu Teknologi Informasi.
Mereka berdua adalah produk generasi kini. Generasi C dalam istilah Prof. Rheinald Khasali.
Mereka berdua sangat memahami dan dekat dengan teknologi informasi. Generasi yang sering juga digolongkan sebagai Digital Nativa (diterjemahkan bebas sebagai pribumi digital).
Dan inilah tantangan kita sebagai dosen bidang Teknologi Informasi untuk tidak henti-hentinya mengupgrade pengetahuan dan gaya penampilan dalam berinteraksi dan berdiskusi saat proses belajar mengajar.
Seorang dosen bidang Teknologi Informasi tak hanya memperkaya wawasan dari membaca jurnal ilmiah, menuliskan penelitian tapi juga sanggup mentransfer ilmu dengan gaya Generasi C.

Oleh karena itu saat suatu hari saya diminta mengisi Talk Show di Prima Radio 103.8 FM saya coba mensinergikan dengan perkuliahan saya sekaligus memanfaatkan aplikasi Catfiz Messenger Indonesia dalam berinteraksi.
Mahasiswa kelas saya yang kebetulan harus kuliah sore itu, saya broadcast untuk mengunduh materi ajar di website elina kampus Universitas Narotama.
Setelah itu mereka saya minta membaca dan mempelajarinya sekaligus disitu saya berikan beberapa pertanyaan kecil untuk memicu rasa ingin tahu dan minat belajar. Topik sore itu dalam perkuliahan adalah "SMART CITY" yang sekaligus juga topik diskusi dalam program talkhsow di Prima Radio.

Pukul 19.00-20.00 saatnya talkshow, dan saya minta mahasiswa saya yang jumlahnya sekitar 20 orang untuk menyimak dan sekaligus berinteraksi melalui pertanyaan yang diajukan kepada saya melalui saluran komunikasi yang ada yaitu SMS. Telepon ke stasiun radio dan NIC Message Catfiz.

Apa yang terjadi ?
Ternyata antusiasme mahasiswa sangat tinggi, sangat berbeda dengan kesempatan bertanya di dalam kelas yang hanya menjadi sesi diam seribu basa.
Dalam catatan Gate Keeper Prima Radio ada 30 orang yang bertanya dan 15an teridentifikasi mahasiswa saya dalam mata kuliah Komputer dan Masyarakat,
Kenapa bisa begini?
Bisa jadi, pola interaksi inilah yang mereka inginkan, adanya "ruang belajar" yang nyaman dan memacu semangat bertanya.
Tugas yang saya sertakan pun dikerjakan dengan baik dan relatif sedikit copy paste.
Sebuah pola pembelajaran yang menyenangkan yang saya coba lakukan bagi mahasiswa di Universitas Narotama

Semoga kedepan ini bisa menjadi inspirasi dari pola pengajaran bagi Generasi C. Generasi yang Always Connected dan Digital Native.